Saturday, 14 February 2026

Pengembangan Karir - MST dan Framework 5 S

 

Mindset, Skillset, Toolset




Good People, Good Product, Good Value, Good Story Telling

Membentuk Mindset, Skillset, dan Toolset yang Tepat untuk Sukses di Masa Depan Pekerjaan

Ada tiga skenario masa depan pekerjaan yang memerlukan pendekatan holistik dalam pengembangan diri. Semuanya didasari oleh kunci sukses dalam bentuk mindset, skillset, dan toolset yang tepat. 

Tahukah Anda, bahwa gelar Sarjana memiliki masa kadaluarsa? 

Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja juga berubah dengan sangat cepat.  Memiliki gelar sarjana mungkin bisa membantu seseorang bersaing di awal karirnya, tetapi tidak selamanya. 

Dalam bukunya “The Next Rules of Work”, Gary A. Bolles menyatakan bahwa masa berlaku gelar sarjana hanyalah empat-lima tahun saja – dan lebih singkat lagi di bidang pekerjaan yang berurusan dengan teknologi.

Untuk bisa sukses di dunia kerja saat ini, dibutuhkan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar secara terus menerus. Bolles mengajukan tiga skenario dunia kerja di masa depan yang bisa membantu kita beradaptasi di dunia kerja.

 

Tiga Skenario Masa Depan Pekerjaan

Dalam bukunya, Gary A. Bolles menyajikan tiga skenario yang mungkin terjadi di masa depan. 

Skenario pertama adalah skenario di mana robot mendominasi tenaga kerja, yang mengarah pada kelangkaan pekerjaan yang tersedia dan tingkat pengangguran yang tinggi. 

Skenario kedua adalah skenario di mana pekerjaan menjadi lebih fleksibel dan bisa dilakukan secara jarak jauh (remote), dengan fokus pada hasil daripada jam kerja. 

Skenario ini didorong oleh meningkatnya gig economy dan meningkatnya penggunaan teknologi untuk memungkinkan pekerjaan jarak jauh.

Gig economy adalah pasar tenaga kerja yang didominasi oleh posisi part-time  yang diisi oleh kontraktor independen dan pekerja lepas (freelancers), bukan oleh karyawan tetap.

Skenario ketiga adalah skenario di mana pekerjaan digerakkan oleh tujuan (purpose driven), dengan fokus pada dampak sosial dan keberlanjutan. Dalam skenario ini, pekerja memprioritaskan pekerjaan yang bermakna yang selaras dengan nilai-nilai mereka dan berkontribusi untuk kebaikan yang lebih besar.

Bolles berpendapat bahwa skenario-skenario ini tidak saling terpisah dan masa depan pekerjaan kemungkinan besar akan menjadi kombinasi dari ketiganya. Dia menekankan pentingnya mengembangkan pola pikir yang bertumbuh, kemauan untuk belajar dan beradaptasi dengan teknologi dan cara kerja baru, dan fokus pada pengembangan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja yang terus berubah. 

Bolles menekankan bahwa organisasi juga harus gesit, fleksibel, dan mudah beradaptasi. Organisasi juga harus mampu berputar dengan cepat dalam menanggapi perubahan kondisi pasar dan kemajuan teknologi. 

 

Membentuk Mindset, Skillset, dan Toolset yang Tepat

Saat ini masih banyak organisasi, manajer, dan pekerja  yang memiliki pola pikir tentang pekerjaan yang berasal dari era Industri. Gagasan tradisional tentang pekerjaan yang seperti ini akan menghambat kemampuan organisasi untuk mengatasi masalah-masalah baru. 

Di masa depan dimana pekerjaan akan dibentuk oleh teknologi dan otomatisasi, individu dan organisasi perlu beradaptasi agar tetap relevan. Disinilah pentingnya memiliki pola pikir (mindset), keahlian (skillset), dan perangkat (toolset) yang tepat.

 

Mindset Yang Tepat

Pola pikir (mindset) yang tepat untuk sukses di dunia saat ini adalah growth mindset. Ini adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.

Growth mindset memungkinkan kita untuk lebih terbuka terhadap pembelajaran dan perubahan, serta lebih berani mengambil resiko dan menghadapi tantangan. Hal ini sangat penting di dunia saat ini, di mana teknologi dan perubahan yang cepat dapat membuat pekerjaan kita menjadi usang dalam waktu singkat.

Selain itu, penting juga untuk memiliki pola pikir yang terbuka dan inklusif, yang memungkinkan kita untuk bekerja dengan orang-orang yang berbeda latar belakang dan pandangan. Hal ini dapat membantu kita mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta memperluas jaringan profesional kita.

 

Skillset Yang Tepat

Ada sejumlah keterampilan penting yang perlu dikembangkan di masa ini dan masa depan, diantaranya adalah keterampilan digital, kreativitas, dan kecerdasan emosional.

Di dunia saat ini yang semakin tergantung pada teknologi, keterampilan digital adalah keterampilan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Berbagai keterampilan digital yang bisa dikembangkan keterampilan seperti pemrograman, analisis data, dan manajemen proyek. Hal ini dapat membantu kita menjadi lebih efektif dan efisien dalam pekerjaan kita, serta memungkinkan kita untuk beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang.

Selain itu, penting juga mengembangkan kreativitas yang melibatkan kemampuan untuk berpikir out of the box dan menghasilkan ide-ide baru. Hal ini dapat membantu kita mengembangkan solusi yang inovatif dan membedakan diri kita dari pesaing.

Satu lagi adalah kecerdasan emosional. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi kita sendiri dan orang lain. Hal ini dapat membantu kita menjadi lebih efektif dalam berkomunikasi, bekerjasama, dan memimpin.

Baca Juga: Project Based Learning, Pembelajaran yang Menghasilkan Solusi Terbaik

 

Toolset Yang Tepat

Mengapa kita membutuhkan keterampilan digital? Tentu saja untuk bisa mengelola berbagai toolset dan teknologi yang tersedia saat ini seperti penggunaan platform kolaborasi, manajemen proyek, dan teknologi otomatisasi.

Berbagai toolset yang tersedia dan kemampuan untuk mengelolanya memungkinkan kita untuk bekerja secara fleksibel dan terhubung secara digital. Kita bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, serta berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan lokasi.

Kombinasi skillset dan toolset ini juga memungkinkan kita untuk mengelola informasi dan data dengan efektif. Hal ini melibatkan kemampuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mempresentasikan data dengan cara yang mudah dipahami dan bermanfaat.

 

Mengadopsi Pendekatan yang Holistik

Jika memiliki mindset, skillset, dan toolset yang tepat adalah modal utama, maka pendekatan holistik adalah metode untuk mengelola modal tersebut.

Pendekatan holistik melibatkan cara pandang terhadap pekerja sebagai individu yang utuh, dengan kebutuhan fisik, emosional, dan sosial yang saling terkait. Mengadopsi pendekatan ini dapat menguntungkan individu dan perusahaan.

Bagi individu, pendekatan holistik dapat membantu mereka merasa lebih puas dan bahagia dalam pekerjaan mereka. Dengan memperhatikan kebutuhan mereka secara menyeluruh, individu dapat merasa lebih dihargai dan didukung oleh perusahaan. Hal ini dapat meningkatkan motivasi dan kinerja mereka, serta mengurangi risiko stres dan kelelahan.

Bagi perusahaan, pendekatan holistik dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan. Dengan memperhatikan kebutuhan karyawan secara menyeluruh, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mendukung. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas karyawan, mengurangi absensi dan turnover, serta meningkatkan reputasi perusahaan sebagai tempat kerja yang baik.

 

Membentuk Mindset, Skillset, dan Toolset yang Tepat untuk Sukses di Masa Depan

Untuk sukses di ekonomi modern yang terus berkembang, Anda perlu memperhatikan tiga faktor kunci: mindset, skillset, dan toolset yang tepat.

Ketiganya dapat membantu kita mempersiapkan diri dan mengatasi kecemasan karena perasaan tidak memiliki keterampilan yang diperlukan atau ketidakmampuan mengikuti perkembangan teknologi.

Penting juga mengetahui tiga kemungkinan skenario masa depan pekerjaan dan bagaimana Anda dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan sukses – termasuk memilih pendekatan yang holistik, yang melibatkan pengembangan diri secara keseluruhan.

Dengan mengadopsi pendekatan yang holistik dan memperoleh mindset, skillset, dan toolset yang tepat, Anda akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk sukses di masa depan. Sekarang, saatnya untuk memulai perjalanan Anda menuju masa depan yang sukses!


https://www.ruangkerja.id/blog/mindset-skillset-toolset

https://lookmedia.co.id/mindset-skillset-dan-toolset/

https://www.td.org/content/atd-blog/mindset-skill-set-toolset-the-wm-approach

https://yunandra.com/mindset-skillset-toolset/

https://executive-education.nus.edu.sg/programmes/leadership-development-programme/?gad_source=1&gad_campaignid=9556760048&gbraid=0AAAAAD3T12WZuJ87wzI8qdbC-b-gXey-T&gclid=Cj0KCQiA18DMBhDeARIsABtYwT1VrWgl6ar2X0IgJUA96_yVgIuUk9mxuEgb6yKlDmpx3pBXDwrobtQaAtK4EALw_wcB

Gen Z Entrepreneur

 
























Saturday, 31 January 2026

Rente - Hilirisasi

 







Pihak-pihak yang menikmati rente ekonomi dari skema "Bandit Ekonomi" maupun sistem "Kapitalisme Birokrasi" di Indonesia dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama:
1. Korporatokrasi Global (Perusahaan Multinasional)
Kelompok ini adalah pemenang utama yang mendapatkan aliran dana langsung dari pinjaman utang luar negeri.
  • Kontraktor Infrastruktur & Energi: Perusahaan seperti HalliburtonBechtel, dan Chas T. Main (perusahaan John Perkins). Uang utang dari Bank Dunia/IMF seringkali tidak pernah masuk ke kas Indonesia, melainkan langsung dibayarkan kepada perusahaan-perusahaan ini sebagai biaya jasa teknik dan konstruksi.
  • Perusahaan Tambang: Perusahaan seperti Freeport-McMoRan. Mereka mendapatkan konsesi lahan dan perlindungan hukum jangka panjang sebagai imbal balik atas "bantuan" pendanaan atau lobi politik tingkat tinggi.
2. Elit Birokrasi dan Militer (Kapitalis Birokrasi)
Pejabat yang memegang otoritas pemberian izin dan pengelolaan dana negara.
  • Manajer BUMN Era Orde Baru: Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sutowo (Pertamina) dan para perwira militer di jajaran direksi BUMN hasil nasionalisasi. Mereka mengelola dana non-budgeter dari keuntungan perusahaan untuk kepentingan organisasi militer, yayasan, atau kekayaan pribadi.
  • Asisten Pribadi (Aspri) Presiden: Tokoh seperti Soedjono Hoemardani dan Ali Moertopo. Mereka berperan sebagai "broker" atau penghubung antara investor asing (terutama Jepang dan AS) dengan kebijakan Istana, mendapatkan komisi serta pengaruh politik dari setiap proyek besar yang masuk.
3. Para "Cukong" atau Mitra Swasta Strategis
Kelompok pengusaha yang menjadi pelaksana operasional di lapangan.
  • Konglomerat Kroni: Tokoh seperti Sudono Salim (Liem Sioe Liong) dan Bob Hasan. Mereka mendapatkan rente berupa hak monopoli (seperti impor terigu, cengkeh, atau konsesi hutan) karena kedekatan mereka dengan elit kekuasaan. Mereka menyediakan modal dan jaringan distribusi yang tidak dimiliki oleh birokrasi militer.
4. Konsultan dan Lembaga Keuangan Internasional
  • Bankir Investasi dan Ekonom: Para ahli yang menyusun laporan pertumbuhan "palsu" (seperti yang dilakukan Perkins di Bandung). Mereka mendapatkan imbalan gaji dan bonus sangat besar karena berhasil "menjual" utang kepada negara berkembang.
  • Lembaga Multilateral: Mendapatkan rente berupa bunga utang jangka panjang dan kekuatan politik untuk mendikte kebijakan ekonomi dalam negeri Indonesia (seperti pencabutan subsidi).
Kondisi Tahun 2026
Di tahun 2026, pemburu rente ini telah bertransformasi menjadi Oligarki Modern. Mereka kini bergerak di sektor-sektor strategis baru seperti:
  • Proyek Strategis Nasional (PSN): Melalui lobi-lobi pembebasan lahan dan pengadaan barang.
  • Ekonomi Hijau & Hilirisasi: Pihak-pihak yang memegang izin tambang nikel dan pembangunan smelter yang mendapatkan subsidi atau perlindungan pajak dari negara.

Sistem rente ini menyebabkan ekonomi Indonesia sering mengalami "High Cost Economy" (ekonomi biaya tinggi), di mana harga produk atau layanan (seperti tarif listrik PLN) menjadi lebih mahal karena harus menanggung biaya "komisi" dan bunga utang yang menumpuk sejak masa lalu.

SROI

 




https://socialinvestment.id/pengalaman-kami/mengukur-kinerja-dampak-program-dengan-metode-sroi-di-desa-tanggap-api/

Pengembangan Karir - MST dan Framework 5 S

  Mindset, Skillset, Toolset https://www.pervektsmk.id/program Good People, Good Product, Good Value, Good Story Telling Membentuk Mindset, ...