- De Javasche Bank: Dinonaktifkan status swastanya dan sepenuhnya menjadi Bank Indonesia (BI).
- Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIHB): Menjadi Bank Dagang Negara (BDN) (sekarang bagian dari Bank Mandiri).
- Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM): Menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) (sekarang bagian dari Bank Mandiri).
- Escomptobank: Menjadi Bank Dagang Negara (sekarang bagian dari Bank Mandiri).
- Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM): Perusahaan pelayaran raksasa ini dinasionalisasi menjadi PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
- Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) - Interinsulair Bedrijf: Menjadi maskapai Garuda Indonesian Airways (GIA).
- Staatsspoorwegen (SS): Menjadi Djawatan Kereta Api (DKA), yang kini adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI).
- Internatio: (Internationale Crediet- en Handelsvereniging Rotterdam).
- Lindeteves: Menjadi perusahaan teknik/konstruksi.
- Borsumij: (Borneo Sumatera Maatschappij).
- Geo Wehry.
- Jacobson van den Berg.
- Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM): Aset-asetnya (kilang dan sumur) secara bertahap diambil alih dan menjadi bagian dari Permina, yang kini dikenal sebagai PT Pertamina.
- Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM): Menjadi perusahaan gas dan listrik, cikal bakal Perusahaan Gas Negara (PGN) dan sebagian aset PLN.
- Heinekens Bierbrouwerij Maatschappij: Menjadi PT Multi Bintang Indonesia (masih beroperasi namun kepemilikan kembali ke sektor privat).
- Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap): Kantor berita Belanda ini diambil alih dan digabungkan ke dalam Lembaga Kantor Berita Nasional Antara.
Nasionalisasi ini membuat hubungan ekonomi Indonesia-Belanda terputus total selama hampir satu dekade. Indonesia berhasil menghapus beban bunga utang 4,3 miliar Gulden tersebut, namun harus menghadapi tantangan besar dalam mengelola manajemen perusahaan-perusahaan tersebut tanpa tenaga ahli dari Belanda
- Dikuasai Negara: Menjadi BUMN yang dikelola oleh pihak militer atau birokrat.
- Yayasan Militer: Banyak aset perkebunan dan pabrik yang pengelolaannya diberikan kepada yayasan di bawah kendali AD, AL, atau AU untuk membiayai operasional mereka karena APBN saat itu sangat terbatas.
- Struktur Komando: Pemerintah menganggap militer paling siap secara organisasi untuk mengamankan aset dari sabotase atau pemogokan buruh kiri (PKI).
- Kedaulatan: Menghindari aset jatuh kembali ke tangan asing atau pengusaha swasta yang dianggap tidak loyal pada revolusi.
- Pendanaan Mandiri: Karena APBN sangat minim, perusahaan hasil nasionalisasi diharapkan bisa membiayai operasional TNI (disebut sebagai dana non-budgeter).
- Lisensi Eksklusif: Hanya mereka yang boleh mengimpor atau mengekspor barang tertentu.
- Akses Kredit Mudah: Mendapatkan pinjaman besar dari bank pemerintah tanpa agunan yang layak karena faktor jabatan.
- Proteksi Hukum: Kebijakan negara dibuat sedemikian rupa untuk melindungi bisnis kelompok tersebut dari saingan swasta murni.
- Korupsi Sistemik: Perusahaan negara sering merugi karena dananya bocor untuk kepentingan politik atau pribadi pengelolanya.
- Hambatan Investasi: Pengusaha swasta murni yang jujur sulit berkembang karena kalah bersaing dengan mereka yang punya "jalur belakang" ke birokrasi.
- Mitra: Soeharto.
- Awal Hubungan: Dimulai sejak tahun 1950-an di Jawa Tengah (Kodam Diponegoro), di mana Liem membantu menyediakan logistik (pangan, obat-obatan, dan pakaian) untuk pasukan yang dipimpin Soeharto.
- Hasilnya: Melalui dukungan politik Orde Baru, Liem membangun Grup Salim (Indofood, BCA, Indocement) yang menjadi konglomerasi terbesar di Indonesia.
- Mitra: Soeharto dan elit militer lainnya.
- Peran: Ia mengelola konsesi hutan (HPH) dalam skala masif. Ia bertindak sebagai jembatan antara kepentingan bisnis militer dengan pasar ekspor kayu internasional.
- Posisi: Pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan di akhir era Orde Baru.
- Konteks: Meskipun lebih dikenal sebagai pengusaha profesional, di awal masa Orde Baru, Astra mendapatkan momentum besar melalui kemitraan dalam proyek otomotif nasional yang sangat bergantung pada kebijakan lisensi dari birokrasi pemerintah.
- Warisan: Menjadikan Astra sebagai standar manajemen korporasi modern di Indonesia.
- Keahlian Teknis: Perwira militer yang mendadak jadi manajer BUMN tidak mengerti cara membaca neraca keuangan atau jalur distribusi pasar, sehingga mereka butuh pengusaha yang sudah berpengalaman.
- Jaringan Internasional: Para pengusaha ini memiliki koneksi dagang ke Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok yang sangat dibutuhkan untuk ekspor-impor.
- Fleksibilitas Dana: Uang dari perusahaan negara sering kali "kaku" karena aturan birokrasi. Dengan bermitra dengan swasta, para pejabat bisa mendapatkan dana tunai yang lebih fleksibel untuk kepentingan operasional organisasi atau politik (dana non-budgeter).



